Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label PUISI

PUISI: EPISODE BARU

 EPISODE BARU Karya : Sitti Aisyah Banyak episode berbeda pada tahun ini Berputar dengan cerita yang tak sama Renjana yang selalu membakar rasa Semua terkubur tanpa kata jumpa Menjalani dengan hampa disetiap tegukan nyawa Kisah ini akan abadi dalam ingatan Namun, bukan berarti kita akan tenggelam dalam kesedihan Kisah-kisah menarik akan segera kita mulai Menjadi pemeran utama dalam perjalanan diri sendiri Bangkit, mencoba bergerak Tanpa takut tersungkur dalam gelap Episode pilu akan berakhir Kita akan berjumpa di episode yang lebih terukir Bangkit, kobarkan semangat baru Menjadi tokoh yang lebih berkarisma Melakoni dengan penuh rasa Berjalan ikhlas dan lapang dada Kita manusia . . . Seyogianya harus bisa mengikuti skenario Tuhan Karena kita adalah pemeran kisah sendiri

PUISI: Bagai Kabisat

Bagai Kabisat (Karya: Adi Nugroho) Kamu bagai kabisat Anomali rotasi yang tak terjadi setiap saat Terkadang membingungkan akal sehat Namun fakta kamu ada membuat kehadiranmu menguat   Kau bagai kabisat Seakan masa depan yang penuh akan firasat Seolah masa lalu yang sejarahnya tak bisa diganggu gugat Dimana membuat ku sadar bahwa masa kini harus dijalani meski berat   Engkau bagai kabisat Membawa kebahagiaan dalam sedih yang terasa sesak Walaupun ketidakjelasanmu di waktu mendatang berkesan abstrak Masih kutuliskan rangkaian kata dalam sebuah surat Bahwa aku berjanji akan menjalani hidup dengan semangat Gambar: pinterest.com

PUISI: UNTITLE

UNTITLE Sumber: freepik.com Karya: Alifiyah Nayla 'Azza Ini bukan tentang rindu untuk jadinya temu. Tentang malam yang memiliki bulan dan bintang. Dia ada untuk aku lihat,  Tapi mustahil tuk dimiliki. Kita adalah teman tanpa perasaan apapun, Mungkin. Karena perasaan yang diungkapkan dapat merusak pertemanan ini. Banyak hal yang bisa dipelajari. Tak semuanya akan kekal. Ada masa dimana harus ada kata berpisah, Untuk saling bahagia,

PUISI: PULANG

Pulang Oleh: Putri Kencono (Sumber: Evgeniy Grozev-pexels.com) Sayapku patah Terbang dengan ringkih Tanpa kehadiran sang kekasih   Jalanku tertatih untuk kembali bangkit Diam di tengah sunyi Memberikanku sebuah ilusi Tentang rumah Tentang pulang Tanpa sadar bahwa jalan pulang selalu terlihat semu Karena utuh sudah menjadi tipu daya palsu

PUISI: ANARKI

Anarki Karya: Titis Dwi (Sumber: Evgeniy Grozev-Pexels.com) Sudut kota itu katanya indah Kata para kompetitor serakah Satu pohon satu milyar dimatanya Uang uang uang pikirnya……   Kini hilang sudah Tak ada yang tenang untuk bertambah Terlihat langkahnya menginjak bumi manusia dengan terengah Lambaikan tangan pertanda……. Cukup Ini rumahku, Cari tempat lain tanpa merusak hidupku

PUISI: KETIKA RINDU DAN PENYESALAN DATANG BERSAMA

Ketika Rindu dan Penyesalan Datang Bersama Oleh: Regita Lisma Putri (Sumber: Ketut Subiyan-Pexels.com) Di dekat mu, aku seperti burung dalam sangkar Aku ingin bebas Terbang menembus awan Menjauh dari mu Namun sayang, semuanya tak seindah bayanganku Menjauh dari mu Pergi dari sisimu Aku baru menyadari Arti kesendirian dan kesepian sesungguhnya   Semua yang telah engkau berikan Itu sangat indah, Dan kini aku merindukannya Mendengar Suaramu membangunkanku di pagi buta Teriakanmu memanggilku ketika senja datang Aku baru menyadari Ketika sudah jauh darimu Dan sekarang aku mengerti Berapa berartinya dirimu di hidupku Harusnya aku menghabiskan waktu bersamamu Dalam pelukanmu, bercerita di bawah senja Ditemani dengan secangkir kopi Mengukir kenangan bersamamu Terima kasih telah hadir di hidupku Maafkan aku Aku mencintaimu Ibu……

PUISI: PUPUS

PUPUS Oleh: Larissa Dian (Sumber: Ann Poan-pexels.com) Terimakasih Tuan Atas waktu yang diluangkan Atas hal indah yang pernah bersama diperjuangkan Atas pergolakan batin yang diberikan  Atas sandiwara yang dijalankan Dan segala kepura-puraan yang dilakukan Memang aku yang terlalu pandai merangkai angan Ternyata berujung kenangan Kini kau bebas Melangkah luas Tak terpikirkan was-was pun aku  Tak perlu menggerutu Atau bergelut dengan resahku

PUISI: MERINTIH ASA

MERINTIH ASA Oleh: Larissa Dian (Sumber: Charlotte May-pexels.com) Kasihan ia Termakan bujuk rayunya Termakan semua angannya Harapannya Impiannya Sudahlah, kubur saja  Perasaan dan sebagainya Hati ia berbicara Mengubur mimpi di kala bunga merekah Mengubur angan di kala burung terbang indah Memang tak ada yang salah Aku tak salah Pun kau tak jua salah Bertemu lantas berpisah Mau bagaimana, sudah titah Setidaknya kita tak lagi salah Salah dalam melangkah

PUISI: SEPERTI ORANG ASING

SEPERTI ORANG ASING Oleh: Larissa Dian (Sumber: Karolina Grabowska-pexels.com) Semenjak tempo itu, ia berubah Harinya pun indah Bak cempaka merekah Pun ia mantap melangkah Tetapi angan tinggalah angan Dahulu genggaman Sekarang dilepaskan Dahulu perjalanan Sekarang sirna di persimpangan Pun seperti itu Tak sempatkan ia mengeluh Walaupun baginda angkuh Tetaplah ia rengkuh Walaupun sang tuan menyakiti Tak terpikirkan oleh ia untuk membenci Ia berpikir, Sekarang aku milikmu Dan itulah anganmu Dari dulu Namun mengapa baginda Bukannya senja malah duka Mengharap asa namun binasa Agaknya sampai ia tersadar Angannya hanya dapat ia tatap nanar Terkekang Kemudian terkenang Dalam bab kisah usang Lambat laun pasti terbuang Di dalam kegelapan Dan segala keraguan Ia semakin memantaskan Bagaimanapun, tetaplah kita orang asing Yang tak sengaja bersua di masa genting.

PUISI: SUMBANG

SUMBANG  By : Sitti Aisyah (Sumber: Karolina Grabowska-pexels.com) Ramai ini terlalu sendiri Bising yang hanya membuat diri terbebani dengan suara yang tak kunjung berhenti  Berada di lingkaran keramaian tidak membuatku merasa dimiliki  Karena semua terlalu acuh untuk menjadi utuh Aku tidak pernah bisa membayangkan sebuah keutuhan yang hadir dari kehangatan Sungguh, ramai ini hanya terbentuk karna waktu  Bukan karna satu  Aku benar-benar tau apa yang sedang terjadi Ramai tentang kebaikan masing-masing diri  Senyum ketus atas pencapaian hari lalu Dengan dada membusung bertumpu Tawa yang muncul karna cacian Kesenangan yang hadir karna ego kebencian  Semua bahagia, kecuali aku yang menepi dari sisi Bukan tak mau menyatu Tapi, bising ini terlalu menyayat hati Pun para kepala tidak ada yang peduli  Dengan satu wajah yang tak pernah dianggap berarti Masih banyak wajah yang tinggi bakti Tak mengapa... Senyumku lebih berarti untuk diriku sendiri Dan harim...

PUISI: KAWAN-KAWAN GULITA

KAWAN-KAWAN GULITA Oleh: Alifya Nurul Wardani (Sumber: Andrea Piacquadio-pexels.com) Gulita tidak suka malam Kisah gulita menyeruak Berbagai kalangan bercuap Ini kisah angan Jangan bilang-bilang Tapi sayang Para hewan terbang Suka berkicau-kicau Tapi burung hantu suka mendelik  Gulita melihat sunyi Memanjatkan malam gelap Suatu hari malam berkedip Kian bertaburan di awang Kepalang girang gulita Malu-malu berkenalan Disambut gemerlap bintang Dan cantiknya candra Kini Gulita tidak gelap lagi!

PUISI: MAWAR BERDURI KAKTUS

Mawar Berduri Kaktus Oleh: Alifya Nurul Wardani (Sumber: Ekaterina Bolovtsova-pexels.com) Helai pelupuk kian luntur Menitikkan darah Bersua pangkal kehausan  Menunaskan rangka tak tumpul Wujud kegagahanku Yang hilang awas diri Kembali mengasah pedang Menyayat kelopak ayu mawarku Tergadai dalam duri Bertaruh keyakinan Gersang penantian Memekarkan rona merah Sang duri kaktus

PUISI: JANGAN CEMAS

Jangan Cemas Oleh: Azzahidatul Husna Nadhifa   (Sumber: Lum3n-pexels.com) Jangan cemas, kita bisa lewat mana saja Dan, karena semua punya jalannya Jalan dan berjalan Iya, kamu hanya perlu terus berjalan Dan, karena semua punya pemberhentiannya   Semuanya kamu yang pilih Dan, karena semua punya kesempatannya Sekalipun berbeda, kamu tidak akan ditelantarkan Dan, karena kamu yang memilih.

PUISI: LIMA RIBU DAPAT EMPAT

Lima Ribu Dapat Empat Oleh: Rara Amerea A. (Sumber: Karolina Grabowska-pexels.com) Jalanan sore hari yang sendu Dagangan yang ramai protesan Tulisan “Gorengan Lima Ribu Dapat Empat” mengiris hati Tak cukup berhenti di situ Masalah demi masalah dengan sombong menampakan diri Menurutmu.. Ini ulah siapa? Benar, ulah manusia berdasi yang egois Hei Tuan Berdasi, sudah puaskah kamu tertawa atas kegelisahan rakyat? Kursi tinggi belum tentu otak mumpuni Kuasa tinggi dengan seenak hati menghancurkan rakyat kecil Tak cukup dampak pandemi memporak-porandakan hidup rakyat kecil Namun kini rasa egoismu turut andil Demi memuaskan kesenanganmu yang tak penting Tuan Berdasi yang terhormat, bolehkah saya bertanya dimana letak hatimu? Kini dirimu telah menuai hasilnya Tepuk tangan keras atas usahamu  Selamat dan terima kasih telah menghancurkan rakyat kecil Di matamu rakyat kecil tak ada guna Bak lalat yang hanya lewat di kehidupanmu Tuan Berdasi Jika ada..  Ucapkan dengan lantang siapa geranga...

PUISI: TENGGELAM DALAM KELAM

Tenggelam Dalam Kelam  Oleh: Vena Lovenia (Sumber: Vlada Karpovich-pexels.com) Dasa berdegup keras  Seakan ada sesuatu yang memompanya  Keringat dingin bercucuran Suhu disekitar mendakak dingin Pukulan keras menghantam dada  Jantung seasa diremas  Paru paru seperti tak berfungsi  Hampa Ambilah seluruhnya  Badan ini tak sanggup menerima lagi

PUISI: PASRAH

PASRAH Oleh: Felyta Dian Permatasari (Sumber: Karolina Grabowska- pexels.com) Berdiam di kesunyian Hanya terdengar hembusan napas Dipadu dengan kesendirian Melampaui batas Tak mampu lagi membendung tangisan Semua orang pergi meninggalkan Setelah susah payah membangun sebuah kepercayaan Namun, nyatanya hal itu hanyalah lelucon belaka

PUISI: AFEKSI

AFEKSI Oleh: Aisyah Karolina Grabows_pexels.com Kadang ia tak terlihat nyata Yang ada hanya gejolak dalam jiwa Rasa yang tumbuh nyata adanya Namun tidak pernah diungkapkannya.   Cinta, tak terlihat ada Sukar ditebak oleh mata, Kenapa? Itu karena hal terindah didunia sulit terlihat Dan hadirnya selalu ditunggu bagai surat.   Cinta yang sebenarnya adalah Meski air mata datang, kau tetap memperhatikan Meski ia tak memperdulikan, kau tegar dalam penantian. Terkadang, orang yang paling mencintaimu, Adalah orang yang tak pernah menyatakan cintanya. Karena takut kau berpaling dan memberi jarak. Nanti kau akan menyadari, bahwa dia adalah cinta yang tak kau sadari.